Categories
News

Penerapan biosekuriti dan manajemen kesehatan ayam

Penyakit pada unggas datang dari mikroor- ganisme lingkungan sekitar seperti virus, bakteri, fungi, dan parasit. Upaya pencegahan bisa dilakukan dengan biosekuriti yang di dalamnya mencakup pengontrolan lalu lintas pekerja, vaksinasi, manajemen flok, dan pencucian kandang. Tidak lupa juga untuk selalu kontrol pakan, kontrol air, dan kontrol limbah. Pencegahan Menurut Thanakrid Luupanyalerd, ada tiga komponen dalam penerapan biosekuriti, yaitu isolasi, sa nitasi, dan kontrol lalu-lintas. “Isolasi berarti pe – ngendalian lingkungan. Termasuk memisahkan unggas berdasarkan grupnya,” terang Technical Poultry Elanco Asia Pacific itu pada acara Antibiotics Resistance, Biosecurity, Consumer (ABC) Challenge Asia di Jakarta, Selasa (17/10). Isolasi bertujuan untuk mencegah bibit penyakit masuk ke dalam farm dan tersebar keluar farm. Dalam penerapannya, ditetapkan area bersih dan area kotor. Lakukan juga kontrol lalu-lintas dengan menetapkan siapa saja yang boleh masuk ke farm. Kemudian, lanjut Thanakrid, ada sanitasi yang terbagi menjadi input dan output. Untuk sanitasi input, perlu perhatikan kualitas air yang digunakan. Air harus dicek kandungan kimia – nya, bakteri, dan pastikan saluran air harus bersih. “Bi sa gunakan hidrogen peroksida sebagai disinfektan,” saran dokter hewan alumnus Kasetsart University, Bangkok, ini. Sedangkan untuk sanitasi output, lanjut dia, perlu memperhatikan gudang penyimpanan dengan jarak 200 m dari kandang. Jadi, udara tidak membawa pa – togen ke kandang.

Pintu harus selalu ditutup, jangan sampai ada kucing atau anjing masuk ke kandang. Tugrul Durali, Poultry Technical Manager, Asia Pacific Alltech menekankan, biosekuriti merupakan poin utama. Edukasi biosekuriti secara lengkap seperti mencelup kaki, ganti sepatu, ganti baju, itu semua harus benar-benar diterapkan. Kemudian juga, kontrol lalat, kontrol manajemen stres, kepadatan unggas di kandang, manajemen ventilasi, manajemen air perlu diperhatikan. Manajemen Air Sementara itu terkait pengelolaan air, Emma Teirlynck Global Product Manager Health Nutreco memaparkan cara mengecek kualitas air minum unggas. Teknisnya, ambil air dari penampungan kemudian diminum. “Kalau kita tidak bisa minum, maka unggas juga tidak bisa minum,” jelasnya. Jika air di kandang berwarna hitam dan suhunya 60o- 70oC, unggas tidak akan mau meminumnya. Untuk mendapatkan jaminan air minum yang ber – sih dan sehat, bisa coba teknologi Nobel Silver Peroxide. Product Development & Technical Mana – ger Behn Meyer Chemicals, Akbar Ramadhan menjelaskan, cairan dengan kandungan 360 mg perak dan 50% hidrogen peroksida ini cukup stabil pada jangkauan pH yang luas. Cairan ini berfungsi membersihkan saluran/instalasi air minum dari biofilm, lumut, dan material organik. Ini juga bisa untuk disinfeksi air minum dengan mematikan mikroba patogen dalam air minum. Pembersihan bisa dilakukan saat kandang kosong ataupun beroperasi. Metode pembersihan saat kandang kosong, pertama-tama hitung panjang total dari pipa air minum. Kemudian tentukan volume tiap. Selanjutnya, panjang total pipa dikalikan volu me diameter pipa. Contoh pada pipa ¾ inchi, (panjang x volume) 320 x 0,3 liter = 96 liter. Kemudian ekstra 25%, contoh: 96 x 25% = 24 liter. Jadi, jumlah air yang diperlukan 96 + 24 = 120 liter. Jadi, jumlah cairan desinfektan yang diperlukan sebanyak 120 liter air x 3% desinfektan = 3,6 liter. Jika menggunakan medikator, sambungkan jeriken cairan disinfektan dengan medikator. Do – sisnya diatur 2%. Kemudian pe – nuhi pipa-pipa air dan buka ujung pipa. Tunggu hingga ada suara mendesis dari larutan di lantai dan segera tutup kembali ujung pipa. Selanjutnya, pembilasan dilakukan setelah 10 jam dengan air bersih. Saat kandang beroperasi, ma – suk kan air sebanyak 1.000 liter ke tempat penampungan air.

Ke – mudian campurkan 50 ml cair an disinfektan ke dalamnya. Saat penampung an hampir kosong, ulangi perlakuan tadi tapi dosisnya di – tingkatkan 50 ml se tiap dua hari sampai tercapai dosis maksimum 250 ml per 1.000 liter air. Apli kasi de – ngan dosis bertahap ini dapat membersih kan salur – an minum dari ko toran setelah 10-12 hari aplikasi. Jika melalui medikator, buat dulu larutan dengan campuran 50 ml cairan disinfektan dalam 10 liter air di ember bersih. Lalu sambungkan ember dengan me di kator dan atur medi – ka tor pada dosis 1%. Saat ember hampir kosong, ulangi cara tersebut tapi dosisnya dinaikkan 50 ml setiap dua hari hingga tercapai dosis maksimum 250 ml per 10 liter. Kondisi pengisian tergantung jumlah dan tipe kontaminasi. Diperkirakan, air be nar-benar bersih dari kontaminan dalam pemakai an 10 hari. Setiap penanggung jawab farm harus mengecek kualitas airnya paling tidak dua kali per tahun. Sampel untuk pengujian laboratorium harus diambil dari tiap rumah dan saluran air minum. Vaksinasi Penyakit pernapasan seperti Infectious Bronchitis (IB), Newcastle Disease (ND), dan Avian Influenza (AI) masih jadi penyebab kematian unggas. “Untuk me – mi nimalkan kasus penyakit pernapasan pada unggas, lakukanlah vaksinasi,” saran Ayatullah M. Natsir, Technical and Marketing Manager PT Ceva Animal Health Indonesia. Menurutnya, dengan vaksinasi oto matis tidak ada gangguan pernapasan, jadi pe – ternak tidak harus mengeluarkan biaya tambahan untuk antibiotik. Penyakit IB, Charles Rangga Tabbu, pakar patologi unggas Fakultas Kedokteran Hewan UGM menjelas – kan, virusnya sangat mudah menular dan cepat meng alami mutasi. “IB mempunyai dampak ekonomi yang besar karena bisa mengganggu pertumbuhan, FCR tinggi, mortalitas tinggi, angka afkir tinggi, dan membuka peluang infeksi dari mikroorganisme lain,” paparnya dalam seminar teknis ILDEX Indonesia 2017.

Untuk solusi penanganan IB, terang Ayat, bisa di – lakukan sejak dari hatchery. “Penanganan dari hatchery lebih terkontrol dan gampang dimonitor,” jelasnya. Kalau ada masalah di farm, bisa langsung di te – lusuri. Ia menyarankan, gunakan vaksin live IB (strain 1/96) yang dilemahkan dari kelompok 793 B. Ini me – rupakan vaksin kering-beku yang tersedia dalam vial 1.000, 2.500, dan 5.000 dosis. Pada uji keamanan di lapangan, broiler yang divak – si nasi dengan vaksin live IB (strain 1/96) bersama H120 dan vaksin apathogenic ND single di hatchery menggunakan coarse spray atau vaksin live IBV varian komersial lain bersama H120 dan apathogenic ND terbukti aman saat disemprotkan pada DOC broiler. Hasilnya, broiler komersial umur tiga minggu menunjukkan terbentuknya kekebalan yang nyata terhadap virus 793 B

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *