PENGADILAN India memvonis 24 terdakwa pelaku pembantaian di Gujarat pada 2002, Kamis pekan lalu. Hakim P.B. Desai memutus ke-24 terdakwa bersalah telah menyerang dan membakar 69 warga muslim di Gulbarg, Ahmedabad. Dalam serangan pada 28 Februari 2002 itu, ke-69 korban berlindung di rumah tokoh politikus muslim yang juga mantan anggota parlemen dari Partai Kongres, Ehsan Jafri.

Jafri pun tewas terbakar. Istrinya, Zakia Jafri, menyatakan kala itu ia berulang kali menelepon polisi untuk meminta bantuan, tapi tidak ada yang datang. Karena itu, dia kecewa ketika Desai membebaskan 36 terdakwa lainnya. Lebih dari 338 orang bersaksi sejak 2009, tapi banyak yang tertunda. Dari 66 terdakwa, 6 orang telah meninggal. Vonis hukuman bagi ke-24 terpidana akan dibacakan pekan depan.

MULUT TAJAM PRESIDEN TERPILIH MEDIA Filipina geram. Aktivis jurnalis dunia murka. Presiden terpilih Filipina, Rodrigo Duterte, menyatakan wartawan yang menerima suap bisa menjadi korban pembunuhan. ”Hanya karena jurnalis, Anda tidak dikecualikan dari pembunuhan jika Anda brengsek,” ujar Duterte dalam konferensi pers di Davao, Selasa pekan lalu. Serikat wartawan Filipina mengatakan pernyataan Duterte itu menjijikkan.

Meski mengakui adanya masalah korupsi, National Union of Journalists of the Philippines (NUJP) menyatakan hal itu tidak membenarkan pembunuhan terhadap wartawan. ”Dia mendeklarasikan pembungkaman media, baik jurnalis individual maupun institusi, dengan persepsi korupsi,” kata NUJP dalam pernyataannya. DENGAN rambut merah dan senyum merekah, Umar Patek menyambut Tempo di Lembaga Pemasyarakatan Kelas 1 Surabaya di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur.

Dari bilik nomor 1 Blok F, ia keluar dan menerima kami di ruang tengah blok itu pada Kamis tiga pekan lalu. Narapidana terorisme yang punya banyak nama alias itu disebut-sebut ketika pemerintah berhasil membebaskan sepuluh warga negara Indonesia yang disandera kelompok Abu Sayyaf di Filipina pada 1 Mei lalu.

Umar, 49 tahun, mengatakan ia menawarkan diri membantu proses negosiasi kepada pemerintah Indonesia untuk pembebasan anak buah kapal Brahma 12 itu. ”Saya ingin membantu karena prihatin sebagai sesama saudara warga Indonesia saja. Semuanya murni, tanpa syarat apa pun,” kata pria yang punya nama asli Hisyam bin Ali Zein itu.

Website : kota-bunga.net

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *