Nah, daerah otak yang disebut amigdala (bagian yang berfungsi sebagai pusat pengontrol rasa takut dalam otak) memiliki tugas sebagai detektor kejadian yang kurang menyenangkan.

Baca juga : Beasiswa S1 Jerman

Meski alasan logis bayi menangis mungkin tidak relevan, seperti suara televisi atau percikan air, namun hal tersebut bisa dianggap sebagai ”ancaman” yang membuatnya panik/ stres, lalu menangis. Itulah mengapa, tangisan bayi perlu segera direspons. KALAU TAK DIRESPONS Memang, terang Wiyarni, semua bayi akan menghentikan tangisannya walau tak mendapat respons sesuai yang diinginkannya. Akan tetapi, hal ini menyisakan dampak kurang baik pada perkembangan sel-sel otak bayi dan telah dibuktikan lewat penelitian uji coba hewan yang secara genetik juga dibekali program “menangis” untuk berkomunikasi meminta bantuan.

Bayi anjing yang dipisahkan dari induknya dan dibiarkan sendirian ternyata menangis 700 kali lebih sering dalam 15 menit dibandingkan bayi anjing yang berada di pelukan induknya. Nah, bayi yang dibiarkan menangis tanpa dihibur dengan pelukan dan bahasa verbal yang menenangkan, akan mengalami ”badai” hormon stres toksik yang mengganggu sel-sel otak, penarikan opioid (senyawa yang membawa rasa nyaman di tubuh kita), dan terjadilah respons oversensitive oleh sistem pengendalian stres.

Dampak peristiwa ini adalah kematian sel otak terjadi lebih dini, mengurangi kapasitas memori (khususnya working memory atau memori kerja), kemampuan verbal, dan berpikir logis (reasoning task). Respons oversensitive ini dapat membuat anak mudah mengalami panik jika harus sendirian atau berpisah dengan Mama/ pengasuh. Dalam jangka panjang, dampaknya membuat anak makin rentan terhadap depresi, gangguan cemas, stres akibat penyakit fisik, hingga ketergantungan nikotin/rokok, alkohol dan penyalahgunaan obat terlarang.

Ternyata dampaknya sampai sebesar ini, ya, Ma! Studi membuktikan, otak pada bayi yang menangis berkepanjangan akan mengalami guncangan keseimbangan senyawa kimia opioid, norepinefrin, dopamin, dan serotonin yang memiliki efek negatif pada perkembangannya kelak. Kadar dopamin dan norepinefrin yang rendah menyulitkan anak berkonsentrasi sehingga mungkin menimbulkan kesulitan belajar.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *