Apakah benar bayi sering di- gendong jadi bau tangan? Pertanyaan ini ternyata se- ring membuat para mama baru penasaran mencari jawabannya. Banyak mama yang akhirnya memiliki pendapat dan pandangan sendiri mengenai anggapan ini. Blog Mama Asteria (littleraindrops.wordpress). “Saya paling sebel kalau ada yang ngomentarin gini ‘Jangan suka gendong anak, nanti bau tangan’. Saya langsung berontak dan beripikir SO WHAT??

Baca juga : Kursus Bahasa Jerman di Jakarta

Anak saya itu sering digendong sama mbaknya setiap saya kerja. Masa iya saya sebagai orangtuanya malah jarang ngegendong anak saya sendiri dibanding pengasuhnya? Saya merasa menggendong anak adalah bonding time antara saya dan si bayi. Tidak ada seorang pun yang berhak melarang saya sering menggendong anak saya. Tidak terkecuali ibu dan ibu mertua saya. ‘Kasihan kan kalau digendong terus nanti jadi kebiasaan’. Lo, kalau gak mau capek gendong ya jangan jadi orangtua, toh?

Jadi orangtua itu memang butuh keikhlasan dan yang jelas harus open minded dan gak gampang percaya mitos dan omong kosong lainnya (sorry emosi jiwa nulisnya).” Soal bau tangan pun akhirnya membuat Mama Hanifa menulis seperti ini di blognya: Blog Mama Hanifa (hanifaasrasilmi.tumblr). “Kalau jadi ibu baru, kayaknya akan sering mendengar wejangan dari orang tua tentang hal ini. Dulu saya beberapa kali diingatkan ‘Jangan sering digendong, nanti bau tangan’. Atau.. ‘Wah baru diem kalo digendong, udah bau tangan nih..”. Jadi bagaimanakah bau tangan ini sebenarnya?

Saya belum ketemu dengan istilah bau tangan dalam bahasa Inggris. Jadi belum ada penelitian dari luar yang bisa saya ceritakan di sini. Tapi setelah baca beberapa twit dari @tentang anak, @id ayah asi, dll, ketemulah beberapa fakta yang (katanya) bersumber dari penelitian ini. Penelitian menunjukkan bahwa negara-negara yang tidak punya budaya menggendong anaknya seperti di Amerika, saat dewasa rentan terlibat dalam masalah kriminal. Mereka kurang merasakan kehangatan. Sedangkan negara-negara yang anak-anaknya sering digendong ibunya (contoh Afrika pedalaman yang ibu-ibunya sering gendong anaknya di belakang itu lhoo, kebayang kan?) menunjukkan fakta sebaliknya.”

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *